Tampilkan postingan dengan label MOTOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTOR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2011

Cara Kerja Mesin Mobil

Prinsip Kerja

Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakan dan udara akan mendorong torak yang dihubungkan dengan poros engkol menggunakan batang torak, sehingga torak dapat bergerak bolak-balik (reciprocating). Gerak bolak-balik torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol (crank shaft). Dan sebaliknya gerak rotasi poros engkol juga diubah menjadi gerak bolak-balik torak pada langkah kompresi.

Berdasarkan cara menganalisa sistim kerjanya, motor diesel dibedakan menjadi dua, yaitu motor diesel yang menggunakan sistim airless injection (solid injection) yang dianalisa dengan siklus dual dan motor diesel yang menggunakan sistim air injection yang dianalisa dengan siklus diesel (sedangkan motor bensin dianalisa dengan siklus otto).



Perbedaan antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada proses pembakaran bahan bakar, pada motor bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada motor diesel pembakaran terjadi karena kenaikan temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat kompresi torak hingga mencapai temperatur nyala. Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya akibat tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition engine sedangkan motor bensin disebut spark ignition engine.

B. Kendaraan yang melaju di jalanan pada umumnya terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu yang berbahan bakar BENSIN, dan berbahan bakar SOLAR . Sebenarnya apa sih perbedaan keduanya yang paling mendasar? Lalu bagaimana persisnya cara kerja mesin DIESEL yang berbahan bakar SOLAR tadi?

Perbedaan mendasar dari kedua jenis mesin itu adalah, kalau mesin BENSIN atau disebut juga mesin Otto (motor ledak), di dalam ”ruang mesin” nya terdapat lecutan listrik/api dari BUSI untuk ”menyalakan” campuran bensin dan udara (oksigen). Sementara pada mesin Diesel, tidak diperlukan nyala listrik/api dari busi. Koq bisa sama-sama meledak ya?

Dalam hukum Fisika Thermodinamika (coba tanyakan pada guru kamu di sekolah deh), terdapat salah satu hukum yang menyatakan : ”jika volume di kecilkan (di kompresi / di mampatkan) tekanan udara akan bertambah disertai dengan bertambahnya Temperatur”. Sebagai ilustrasi, barangkali kamu yang pernah menggunakan pompa ban sepeda, saat digunakan batang pompa nya akan menjadi panas, mengapa? Ya karena udara yang di mampatkan pada saat kamu memompa ban membuat tekanan udara menjadi tinggi dan juga suhu nya.


Pada mesin Diesel, dibuat ”ruangan” sedemikian rupa sehigga pada ruang itu akan terjadi peningkata suhu hingga mencapai ”titik nyala” yang sanggup ”membakar” minyak bahan bakar. Pemampatan yang biasanya digunakan hingga mencapai kondisi ”terbakar” itu biasanya 18 hingga 25 kali dari volume ruangan normal. Sementara suhunya bisa naik mencapai 500 oC (bayangkan ! minyak solar saja dapat ”meledak” pada suhu 250 oC saja)

Cara kerjanya mudah, minyak solar yang sudah dicampur udara (seperti yang keluar dari semprotan obat nyamuk) disemprotkan ke dalam ruangan yang telah ”mampat” dan bersuhu tinggi, sehingga dapat langsung membuat ”kabut solar” tadi meledak dan mendorong ”piston” yang kemudian akan menggerakkan poros-poros roda, singkatnya menjadi TENAGA. Kejadian ini berulang-ulang dan tenaga yang muncul pun dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan mobil, generator listrik, dan sebagainya.

Nah secara sederhana begitulah cara kerja mesin Diesel. Pembuat mesin diesel yang lebih maju tentu menambah di sana sini untuk memberi peningkatan kinerja dan tenaga. Walau cara kerjanya menjadi lebih rumit, tapi dasarnya tetap tidak berubah.

Ayo, ada yang tertarik menjadi ahli mesin? Rajin belajar dan coba sesekali ikut mengamati ayah kamu atau montir ”mengoprek” mesin mobilnya.


C. Ketika udara dikompresi suhunya akan meningkat (seperti dinyatakan oleh Hukum Charles), mesin diesel menggunakan sifat ini untuk proses pembakaran. Udara disedot ke dalam ruang bakar mesin diesel dan dikompresi oleh piston yang merapat, jauh lebih tinggi dari rasio kompresi dari mesin bensin. Beberapa saat sebelum piston pada posisi Titik Mati Atas (TMA) atau BTDC (Before Top Dead Center), bahan bakar diesel disuntikkan ke ruang bakar dalam tekanan tinggi melalui nozzle supaya bercampur dengan udara panas yang bertekanan tinggi. Hasil pencampuran ini menyala dan membakar dengan cepat. Penyemprotan bahan bakar ke ruang bakar mulai dilakukan saat piston mendekati (sangat dekat) TMA untuk menghindari detonasi. Penyemprotan bahan bakar yang langsung ke ruang bakar di atas piston dinamakan injeksi langsung (direct injection) sedangkan penyemprotan bahan bakar kedalam ruang khusus yang berhubungan langsung dengan ruang bakar utama dimana piston berada dinamakan injeksi tidak langsung (indirect injection).



Ledakan tertutup ini menyebabkan gas dalam ruang pembakaran mengembang dengan cepat, mendorong piston ke bawah dan menghasilkan tenaga linear. Batang penghubung (connecting rod) menyalurkan gerakan ini ke crankshaft dan oleh crankshaft tenaga linear tadi diubah menjadi tenaga putar. Tenaga putar pada ujung poros crankshaft dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Untuk meningkatkan kemampuan mesin diesel, umumnya ditambahkan komponen :
Turbocharger atau supercharger untuk memperbanyak volume udara yang masuk ruang bakar karena udara yang masuk ruang bakar didorong oleh turbin pada turbo/supercharger.
Intercooler untuk mendinginkan udara yang akan masuk ruang bakar. Udara yang panas volumenya akan mengembang begitu juga sebaliknya, maka dengan didinginkan bertujuan supaya udara yang menempati ruang bakar bisa lebih banyak.
Mesin diesel sulit untuk hidup pada saat mesin dalam kondisi dingin. Beberapa mesin menggunakan pemanas elektronik kecil yang disebut busi menyala (spark/glow plug) di dalam silinder untuk memanaskan ruang bakar sebelum penyalaan mesin. Lainnya menggunakan pemanas "resistive grid" dalam "intake manifold" untuk menghangatkan udara masuk sampai mesin mencapai suhu operasi. Setelah mesin beroperasi pembakaran bahan bakar dalam silinder dengan efektif memanaskan mesin.
Dalam cuaca yang sangat dingin, bahan bakar diesel mengental dan meningkatkan viscositas dan membentuk kristal lilin atau gel. Ini dapat mempengaruhi sistem bahan bakar dari tanki sampai nozzle, membuat penyalaan mesin dalam cuaca dingin menjadi sulit. Cara umum yang dipakai adalah untuk memanaskan penyaring bahan bakar dan jalur bahan bakar secara elektronik.
Untuk aplikasi generator listrik, komponen penting dari mesin diesel adalah governor, yang mengontrol suplai bahan bakar agar putaran mesin selalu para putaran yang diinginkan. Apabila putaran mesin turun terlalu banyak kualitas listrik yang dikeluarkan akan menurun sehingga peralatan listrik tidak dapat berkerja sebagaimana mestinya, sedangkan apabila putaran mesin terlalu tinggi maka bisa mengakibatkan over voltage yang bisa merusak peralatan listrik. Mesin diesel modern menggunakan pengontrolan elektronik canggih mencapai tujuan ini melalui elektronik kontrol modul (ECM) atau elektronik kontrol unit (ECU) - yang merupakan "komputer" dalam mesin. ECM/ECU menerima sinyal kecepatan mesin melalui sensor dan menggunakan algoritma dan mencari tabel kalibrasi yang disimpan dalam ECM/ECU, dia mengontrol jumlah bahan bakar dan waktu melalui aktuator elektronik atau hidrolik untuk mengatur kecepatan mesin.


http://blogneforfree.blogspot.com/2010/04/cara-kerja-mesin-diesel-terlengkap.html

Cara Kerja Karburator Mesin

Pada waktu sepeda motor dihidupkan piston dalam silinder melakukan langkah hisap, hisapan ini membuat udara dari luar masuk ke dalam karburator. Kecepatan udara mengalir melewati spuyer kecil, sehingga mengakibatkan tekanan udara mejadi rendah, akibatnya bensin dalam ruang pelampung ikut terhisap naik keluar melalui spuyer kecil.

Bensin yang naik keluar bercampur dengan udara menjadi kabut/gas yang merupakan campuran udara dengan bensin. Gas ini akan masuk ke dalam ruang bakar di mesin untuk kemudian dibakar. Prinsip kerja karburator sebenarnya hampir mirip dengan semprotan obat nyamuk.

Tingkat kecepatan putaran mesin dapat dibagi atas 4 tahap yaitu ;
1.Putaran stasioner (langsam) : Pada posisi ini handle gas tidak diputar atau lepas gas, pada putaran ini dipengaruhi oleh sekrup penyetel udara dan sekrup penyetel gas. Bila putaran mesin tidak normal, maka penyebabnya adalah kedua sekrup penyetelan itu. Pada putaran ini pula yang bekerja adalah spuyer kecil atau pilot jet, sedangkan main jet sama sekali tidak bekerja. Bensin hanya memancar keluar melalui pilot jet untuk bercampur dengan udara.

2.Putaran rendah : Pada saat ini posisi handle gas diputar sampai 1/8 putaran, pada putaran ini yang  berpengaruh adalah sekrup penyetel udara dan coakan pada skep. Pilot jet / spuyer kecil masih tetap bekerja untuk memancarkan bensin, sementara spuyer besar / main jet ikut memancarkan bensin namun masih dalam jumlah yang lebih sedikit.

3.Putaran menengah : Pada putaran ini posisi handle gas pada putaran 1/8 sampai 3/4, yang berpengaruh pada putaran ini adalah coakan skep dan posisi jarum skep. Pada putaran ini spuyer besar atau main jet bekerja lebih banyak memancarkan bensin , sementara spuyer kecil lebih sedikit memancarkan bensinnya.

4.Putaran tinggi : Posisi handle gas pada putaran 3/4 sampai penuh, yang berpengaruh adalah besarnya lubang spuyer besar/ main jet. Pada saat ini yang memancarkan bensin adalah spuyer besar atau main jet. Sementara spuyer kecil tidak bekerja memancarkan bensin.
 http://www.honda-cs1.com/index.php?p=archive&l=id&newsaction=shownews&nid=393


Karburator adalah sebuah alat yang mencampur udara dan bahan bakar untuk sebuah mesin pembakaran dalam. Karburator masih digunakan dalam mesin kecil dan dalam mobil tua atau khusus seperti yang dirancang untuk balap mobil stock. Kebanyakan mobil yang diproduksi pada awal 1980-an telah menggunakan injeksi bahan bakar elektronik terkomputerisasi. Mayoritas motor masih menggunakan karburator dikarenakan lebih ringan dan murah, namun pada 2005 sudah banyak model baru diperkenalkan dengan injeksi bahan bakar.
 
Prinsip Kerja

Pada dasarnya karburator bekerja menggunakan Prinsip Bernoulli: semakin cepat udara bergerak maka semakin kecil tekanan statis-nya namun makin tinggi tekanan dinamis-nya. Pedal gas pada mobil sebenarnya tidak secara langsung mengendalikan besarnya aliran bahan bakar yang masuk kedalam ruang bakar. Pedal gas sebenarnya mengendalikan katup dalam karburator untuk menentukan besarnya aliran udara yang dapat masuk kedalam ruang bakar. Udara bergerak dalam karburator inilah yang memiliki tekanan untuk menarik serta bahan bakar masuk kedalam ruang bakar.

Kebanyakan mesin berkarburator hanya memiliki satu buah karburator, namun ada pula yang menggunakan satu karburator untuk tiap silinder yang dimiliki. Bahkan sempat menjadi trend modifikasi sepeda motor di Indonesia penggunaan multi-carbu (banyak karburator) namun biasanya hal ini hanya digunakan sebagai hiasan saja tanpa ada fungsi teknisnya. Mesin-mesin generasi awal menggunakan karburator aliran keatas (updraft), dimana udara masuk melalui bagian bawah karburator lalu keluar melalui bagian atas. Keuntungan desain ini adalah dapat menghindari terjadinya mesin banjir, karena kelebihan bahan bakar cair akan langsung tumpah keluar karburator dan tidak sampai masuk kedalam intake mainfold; keuntungan lainnya adalah bagian bawah karburator dapat disambungkan dengan saluran oli supaya ada sedikit oli yang ikut kedalam aliran udara dan digunakan untuk membasuh filter udara; namun dengan menggunakan filter udara berbahan kertas pembasuhan menggunakan oli ini sudah tidak diperlukan lagi sekarang ini.

Mulai akhir 1930-an, karburator aliran kebawah (downdraft) dan aliran kesamping (sidedraft) mulai popouler digunakan untuk otomotif

Saat Beroperasi

Pada setiap saat beroperasinya, karburator harus mampu:

    * Mengatur besarnya aliran udara yang masuk kedalam ruang bakar
    * Menyalurkan bahan bakar dengan jumlah yang tepat sesuai dengan aliran udara yang masuk kedalam ruang bakar sehingga rasio bahan bakar/udara tetap terjaga.
    * Mencampur airan udara dan bahan bakar dengan rata dan sempurna

Hal diatas bakal mudah dilakukan jika saja bensin dan udara adalah fluida ideal; tapi kenyataannya, dengan sifat alami mereka, yaitu adanya viskositas, gaya gesek fluida, inersia fluida, dan sebagainya karbrator menjadi sangat kompleks dalam mengatasi keadaan tidak ideal ini. Juga karburator harus tetap mampu memproduksi campuran bensin/udara yang tepat dalam kondisi apapun, karena karburator harus beroperasi dalam temperatur, tekanan udara, putaran mesin, dan gaya sentrifugal yang sangat beragam. Karburator harus mampu beroperasi dalam keadaan:

    * Start mesin dalam keadaan dingin
    * Start dalam keadaan panas
    * Langsam atau berjalan pada putaran rendah
    * Akselarasi ketika tiba-tiba membuka gas
    * Kecepatan tinggi dengan gas terbuka penuh
    * Kecepatan stabil dengan gas sebagian terbuka dalam jangka waktu yang lama

Karburator modern juga harus mampu menekan jumlah emisi kendaraan

http://id.wikipedia.org/wiki/Karburator

Suzuki Satria F-150 2007 VS RX-King

Kapasitas silinder Satria F-150 milik Davin Indrawan ini sudah bengkak sampai 250 cc. Pantas jika Yamaha RX-King korekan abis ditekuk di arena adu kebut malam Kemayoran beberapa waktu lalu. Konon menang 8 rebu.

Lumayan alot dan ribet ketika mau bedah motor korekan Alex alias Belex Oxs dari B2X di Jl. Semanan Raya No. 2, Jakarta Barat ini. Minta ampun negonya. Akhirnya mesin dibongkar juga.

Dapur pacu aplikasi piston diameter 70 mm. Konon katanya meggunakan piston milik Yamaha Scorpio. Sepertinya agar jalur oli tidak bocor, solusinya menggunakan blok milik Suzuki Raider dibarengi dengan ganti boring.

Motor yang digeber Denny Tongkol ini juga naik stroke. dari hasil pengukuran piston mendem 1,5 mm dan turun ke TMB hanya 62 mm. Stroke hasil pengukuran jadi 62-1,5 = 60,5 mm.

Dari sini kapasitas silinder bisa diukur. Dengan diameter piston atau seher 70 mm, volume silinder jadi 232,7 cc. Namun menurut Belex sih total stroke 64 mm. Jika Belex bener, kapasitas silinder bisa dihitung tepat. Seher 70 mm dan stroke 64 mm, maka volume silinder versi Belex yaitu 246,2 cc. Digenapkan 250cc.

Dua versi kapasitas silinder ini memang bikin bingung. Namun bisa dilihat blok diganjal aluminium 9 mm dan ditambah tiga paking kertas. Dengan aplikasi setang seher milik Yamaha RX-Z.

Namun untuk terapkan setang RX-Z kudu main bos. Kata Belex, lubang pen di setang seher RX-Z setelah dipasangi laher bambu jadinya 15 mm. Sedangkan pen piston milik Scorpio 16 mm. “Solusinya kudu dipasang bos di piston,” jelas Belex yang berencana mau tarung lawan Yamaha Mio korekan Biker Zone itu.

Untuk main di trek panjang, rasio kompresi bermain di 11,3 : 1. Dibarengin dengan penggunaan karburator Keihin PE 28. Namun karena kapasitas silinder sudah gede, lubang venturi kudu dibesarkan. Kini jadi 30,5 mm.

Spuyer yang digunakan yaitu pilot-jet 60 dan main-jet 140. Dengan dipadukan sproket depan 15 dan belakang 38. Untuk turun di trek 500 meter.

Namun sayang, Belex dan Davin sang pemilik Satria F-150 dari perumahan Poris Paradise BB7, Tangerang ini, tidak mau bilang rasionya.

Termasuk durasi buka tutup klep juga ogah dibilang seara rinci. “Namanya juga motor balap liar speknya tidak mau diketahui lawan,” argumen Johan Juniarta, kakak Davin.
Klep 26/23

Kapasitas silinder yang sudah gede musti diimbangi laju gas bakar yang lebih gede juga. Untuk itu kudu terapkan klep payung lebar. Oleh Belex dipasangi klep isap 26 dan buang 23. Kalau kata Belex sih pakai kepunyaan Suzuki Thunder.

Menurut Belex, korekannya menganut ajas murah. Seperti pston atau seher yang pakai kepunyaan Scorpio bukan asli pabrik. Tapi, menggunakan merek yang banyak dipakai di jalanan. Yaitu piston buatan NPP satu set ring buatan NPR.

Selain itu, untuk penggunaan kampas dan per kopling juga masih pakai buatan wong dewek. “Mengaplikasi keluaran RMG,” jelas Ketu, bobotoh atau suporter Satria F-150 buah tangan Belex itu.

AHM undang Blogger Test Ride New Honda Blade 110R



Bro sekalian, Divisi HC3 Astra Honda Motor sore ini mengundang blogger untuk menghadiri sebuah acara yang bertajuk “Blogger Riding Experience Honda Blade dan Buka Puasa Bersama” di akhir pekan ini di sebuah cafe di bilangan menteng Jakarta. Dan Insya Allah tmcblog akan ikut sertaKalau dilihat dari tempat acaranya, maka tmcblog mensinyalir Honda Blade akan di test ride via jalan umum seperti saat test megapro, pcx 125 dan spacy dan Seperti biasanya dalam sebuah acara test ride Honda menyelipkan acara bedah teknologi dari produknya ini. Nah … Monggo bro sekalian titip pertanyaan baik segi teknis dan non teknis dari New Blade ini. Insya Allah tmcblog akan mengawal amanah bro sekalian sampai diperolehnya tanggapan dan jawaban dari fihak AHM … Monggo, semoga berguna

Honda Blade terbaru 2011

PT AHM meluncurkan Honda Blade dengan tampilan baru yang membuatnya terlihat lebih sporty untuk memenuhi keinginan konsumen.
Trend pertumbuhan pasar motor diikuti dengan ketatnya persaingan di segmen cub < 125 cc dimana segmen ini merupakan salah satu pasar potensial yang diisi oleh kawula muda yang menginginkan sepeda motor dengan tampilan sporty. Khusus di segmen cub < 125 cc, hingga Agustus 2010 Honda berhasil mendominasi 47,5% pasar motor nasional.

Kehandalan mesin 110 cc Honda Blade sudah terbukti karena didukung oleh teknologi EFT (Efficient & low-Friction Technology) yang membuatnya hemat bahan bakar dan powerful. Motor ini juga sudah dilengkapi dengan beberapa fitur unggulan seperti desain sayap 3 dimensi (3D Legshield), pengaman rantai belakang (sprocket chain stopper), pengaman kunci bermagnet (Key shutter), dan bagasi serbaguna (utility box) berukuran besar 4,7 liter.
Honda Blade kini dibekali dengan front fender baru yang memberikan kesan sporty dan keren. Selain itu, warna body dan stripingnya juga baru sehingga secara keseluruhan tampilan Honda Blade, khususnya edisi warna Repsol Racing yang sama dengan motor balap Moto-GP, terlihat lebih agresif.
Dengan tampilan baru ini Honda Blade diproyeksikan dapat memenuhi keinginan kawula muda berusia 17-22 tahun dan mereka yang berjiwa muda, sekaligus memperkuat image Honda Blade sebagai motor kawula muda.
“Kami harapkan tampilan baru ini akan memenuhi keinginan kawula muda yang menginginkan motor bebek berpenampilan sporty, dan dapat diterima oleh banyak kawula muda di Indonesia,” ujar Kojiro Iguchi, Direktur Pemasaran PT AHM.
Gambar nya neeh …
Laser White
winning red
speed black
repsol edition

Rabu, 03 Agustus 2011

daftar harga oli terbaru

NO MERK OLI MESIN KEMASAN API SERVICE JUAL/PC *HARGA BISA
BERUBAH SEWAKTU-WAKTU TANPA PEMBERITAHUAN TERLEBIH DAHULU*

1 AGIP 4T SUPER 20W/50 0,8 L SG Rp17,000

2 AGIP 4T SUPRA 20W/50 0,8 L SJ Rp24,500

3 BM1 PC1000 15W/50 0,8 L SJ Rp29,000

4 CASTROL AKTIV 4T 20W/50 0,8 L SG Rp18,500

5 CASTROL AKTIV GO 4T 20W/40 0,8 L SF Rp19,000

6 CASTROL POWER 1 4T 15W/40 0,8 L SG Rp23,000

7 FEDERAL SUPREME XX 20W/50 0,8 L SJ Rp23,500

8 FEDERAL ULTRATECH 20W/50 0,8 L SF Rp19,500

9 MESRAN ENDURO 20W/50 0,8 L SJ Rp20,000

10 MOTUL GOLD 3100 15W/50 4T 0,8 L SL Rp33,000

11 PENZOIL 4T FAST TRACT 20W/50 0,8 L SH Rp20,000

12 REPSOL MOTO 4T SUPER 20W/50 0,8 L SJ Rp23,500

13 REPSOL MOTO 4T STD 15W/50 0,8 L SG Rp28,000

14 REVTEX 4T SUPER 20W/40 0,8 L SG Rp22,000

15 SHELL ADV 4T SX 15W/50 0,8 L SG Rp19,500

16 SYNPRO SYNTEX 15W/50 0,8 L SJ Rp28,000

17 TOP 1 MC 20W/50 0,8 L SH Rp21,500

18 TOP 1 MC EVOLUTION 15W/50 0,8 L SL Rp35,000

19 YAMALUBE 4T 20W/40 0,8 L SJ Rp20,500

NO MERK OLI MESIN KEMASAN API SERVICE JUAL/PC

1 BM1 PC1000 15W/50 1 L SJ Rp33,000

2 ESSO SUPER FLO 15W/50 1 L SL Rp33,000

3 FEDERAL ULTRATECH 20W/50 1 L SF Rp20,500

4 MESRAN ENDURO 20W/50 1 L SJ Rp21,000

5 MESRAN FASTRON 20W/50 1 L SJ Rp24,000

6 MESRAN PRIMA XP 20W/50 1 L SJ Rp21,000

7 MESRAN SAE 40 1 L SE Rp18,000

8 MESRAN SUPER 20W/50 1 L SG Rp18,500

9 MOTUL 4T � 5100 ESTER 15W/50 1 L SG Rp55,000

10 MOTUL GOLD 3100 15W/50 4T 1 L SL Rp35,000

11 REPSOL ELITE SUPER 20W/50 1 L SJ Rp29,000

12 REPSOL MOTO 4T STD 15W/50 1 L SG Rp31,500

13 REPSOL MOTO 4T SINTETICO 10W/40 1 L SJ Rp44,000

14 REVTEX 4T SUPER 20W/40 1 L SG Rp24,000

15 SHELL HELIX SUPER 15W/50 1 L SL Rp28,000

16 TITAN FUCHS SUPER GT 20W/50 1 L SL Rp30,000

17 TOP 1 HP 20W/50 1 L SL Rp28,500

18 TOP 1 MC 20W/50 1 L SH Rp24,000

19 TOP 1 SUPER SYNTHETIC 10W/40 1 L SL Rp30,000

20 PENZOIL MC 20W/50 1 L SG Rp17,000

NO MERK OLI SAMPING KEMASAN API SERVICE JUAL/PC

1 AGIP 2T PLUS 0,8 L TC Rp15,500

2 AGIP 2T SMOKE LESS 0,8 L TC Rp18,500

3 CASTROL AKTIV 2T LOW SMOKE 0,7 L N/A Rp19,000

4 CASTROL GO 2T NEW 0,7 L N/A Rp16,500

5 CASTROL POWER 1 2T 0,7 L N/A Rp21,000

6 ESSO 2T POWER 0,8 L TC Rp18,000

7 EVALUBE 2T 0,8 L TB Rp12,500

8 MOTUL 2T � 5100 ESTER 0,8 L TC Rp28,500

9 PENZOIL 2T FAST TRACT 0,8 L N/A Rp22,000

10 REPSOL MOTO 2T STANDARD 0,8 L TC Rp30,000

11 REVTEX 2T SUPER 0,7 L TC Rp18,000

12 SHELL ADV 2T SX 0,8 L N/A Rp18,500

13 TOP 1 2T LOW SMOKE 0,8 L N/A Rp18,000

14 VISTRA 2T 300 SYNTHETIC 1 L TC Rp20,000

15 YAMALUBE 2T 0,8 L N/A Rp20,000

Harga dalam ribuan

AGIP
SINT Evolution OW30  
155
Extra HTS 5W-40, SL/CF  
122
Sint 2000 10w-40 SJ/CF  
75
Formula 2000 10W-40 SJ/CF  
55
Super MOTOR OIL 20W-50 SG/CF  
38
Diesel Sigma Plus 40 CF/SF  
27
Sigma Turbo 15 W-40 CG-4/SG  
40
Racing 4T, Full Synthetic  
85
ARAL
Super Tronic G 0W-30  
264
Super Tronic E 0W-30  
230
Super Tronic B 5W-30  
230
Super Tronic 0W-40  
230
High Tronic F 5W-40  
170
High Tronic F 5W-30  
170
Blue Tronic 10W-40  
99.2
Multi Elastic 15W-40  
56.1
Extra Turboral 10W-40  
88
Multi Turboral 15W-40  
93.5
Plus Turboral 15W-40  
56.1
BS LSX 75W-140  
286
BS 75W-90  
286
Hyp Synth 75W-90  
176
Hyp LS 85W-90  
99
Hyp 85W-90  
99
Ep Synth 75W-90  
176
ATF E-S  
286
ATF 55-III  
104.5
TOP ATF III  
90
90  
90
CASTROL
EDGE 5W-40  
150
EDGE 0W-40  
230
CRB 20W-40 CF/SF (1 liter)  
32
GTX 20W-50 SL/CF  
40
GTX DIESEL 15W-40 (1 liter)  
40
EP 90 GL-4 (1 liter)  
32.5
GTX 20W-50 SL/CF (4 liter)  
160
MAGNATEC 10W-40 SM/CF (1 liter)  
62.5
MAGNATEC 10W-40 SM/CF (4 liter)  
240
CRB 20W-40 CF/SF (4 liter)  
120
ELF
Excellium 229 5W-30 SM  
210
Excellium GP 5W-40 SL  
150
Competition 10W-40 SM  
67.5
Super Sporti XP 15W-50 SL  
40
Turbo Diesel 10W-40 CF/B4 (5 liter)  
300
Elfmatic G3 D III  
55
GearElf-5 80W-90 GL-5  
50
ENEOS
Touring 20W-50 SJ/CF  
45
Touring Gear GL-5 85W-90  
45
ATF Multi  
80
ATF CVT Multi  
85
Molybdenum API SL/CF 10W-40 (1 liter)  
60
Molybdenum API SL/CF 10W-40 (4 liter)  
210
Pro Racing 5W-50 SL/CF  
125
Pro Racing 0W-50 SM/CF  
150
FINA
Fina First 5W-40 Full Synthetic  
145
Ekofina Turbo 10W-40  
75
Pontonic LS Extreme Pressure 80W-90  
75
FUCHS
Titan Supersyn SL 5W-50 (1 liter)  
110
Titan Supersyn SL 5W-40 (1 liter)  
110
Titan Super DX 15W-40 (1 liter)  
42.5
Titan Super GT 20W-50 (1 liter)  
42.5
Titan Super GT 0W-20 (1 liter)  
110
Titan Carat MC 15W-50 (1 liter)  
65
Titan Carat MC 10W-40 (1 liter)  
65
Titan 5 Speed SL 75W-90 (1 liter)  
52.5
Titan Super Gear MC 80W-90  
50
Titan ATF 3000  
55
Titan ATF 3300  
80
IGOL
Symbol Ceramics F1 5W-40 (2 liter)  
400
Process 10W-40 (1 liter)  
108
Process 15W-50 (1 liter)  
90
Process MB 0W-30 (1 liter)  
210
Process A5/B5 5W-30 (1 liter)  
140
Process Compact 5W-30 (1 liter)  
180
Trans Turbo 5X 15W-40 (2 liter)  
80
Hypoid B90 SAE 90 (2 liter)  
105
ATF 420 Dextron IID (1 liter)  
102
ATF 430 Dextron IIIG-34467 (1 liter)  
116
STS R Competition (2 liter)  
190
RR Symbol 10W-50 (1 liter)  
164
Propula Custom 20W-50 (1 liter)  
Propula Custom 20W-50 (1 liter)
Propula Racing 10W-50 (1 liter)  
146
INDOMOBIL OIL
Supersyn Gold 10W40 SL (0,8 liter)  
26
Supersyn Gold 10W40 SL (1 liter)  
30
MOBIL
Mobil 1 5W-50 Full Synthetic  
185
Mobil 1 0W-40  
200
Super S 10W-40, Semi Synthetic  
85
Super XHP 15W-50  
65
Super S Diesel 15W-40  
65
Delvac MX 15W-40 (5 liter)  
250
Delvac MX 15W-40  
50
ATF 220 D II  
55
MOTUL
Multi Power 15W-50 (1 liter)  
75
Multi Power 20W-50 (1 liter)  
75
H-Tech 100 5W-30 (1 liter)  
106
H-Tech 100 Plus 5W-30 (1 liter)  
106
6100 Synergie 15W-50  
108
6100 Synergie 10W-40  
131
Tekma Mega X 15W-40 (4 liter)  
245
300 V Competition 15W-50 (2 liter)  
666.6
300 V High RPM 0W-20 (2 liter)  
666.6
300 V Power Racing 5W-30 (2 liter  
666.6
300 V Power Racing 5W-30 (2 liter  
666.6
300 V Chrono 10W-40 (2 liter)  
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)  
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)
300 V Factory Line 5W-30  
275
300 V Factory Line 15W-50  
275
300 V Factory Line 4T 5W-40  
275
Multi Power Plus 10W-40 (1 liter)  
88.75
8100 X-Cess 5W40 (1 liter)  
165
HDX 80W-90 (1 liter)  
98.1
Dexron III (1 liter)  
145
ATF 1A (1 liter)  
150
PERTAMINA
Fastron 0W-50 API SL (1 liter)  
107
Fastron 10W-40 API SL (1 liter)  
37.5
Fastron 10W-40 API SL (4 liter)  
144.5
Fastron 20W-50 API SL (1 liter)  
31.5
Fastron 20W-50 API SL (4 liter)  
120
Fastron 20W-50 API SJ (1 liter)  
29
Prima XP 10W-40 API SL (1 liter)  
30.5
Prima XP 10W-40 API SL (4 liter)  
114
Prima XP 20W-50 API SJ (1 liter)  
25.5
Prima XP 20W-50 API SJ (4 liter)  
89
Mesran Super 20W-50 SG/CD (1 liter)  
21.85
Mesran Super 20W-50 SG/CD (4 liter)  
76
Mesran Super 20W-50 API SG/CD (5 liter)  
82
Mesran 40 (1 liter)  
18.4
Mesran 40 (4 liter)  
53
Mesran B 40 (1 liter)  
19.35
Mesran B 40 (4 liter)  
57
Mesran B 40 (5 liter)  
68.5
Mesran B 40 (10 liter)  
134
Meditran S 40 (1 liter)  
19.65
Meditran S 40 (5 liter)  
81.5
Meditran S 40 (10 liter)  
143
Meditran SC 15W-40 (1 liter)  
22.45
Meditran SC 15W-40 (5 liter)  
161
Meditran SX 15W-40 CH-4 (1 liter)  
24.6
Meditran SX 15W-40 CH-4 (4 liter)  
86
Meditran SX 15W-40 CH-4 (10 liter)  
210
Rored EPA 90 (4 liter)  
76
Rored EPA 90 (5 liter)  
92
Rored EPA 140 (4 liter)  
72
Rored EPA 140 (5 liter)  
87
Rored HDA90 (4 liter)  
90
Rored HDA90 (5 liter)  
108
Rored HDA140 (4 liter)  
90
Rored HDA140 (5 liter)  
108
ATF D III (1 liter)  
31
PETRONAS
Syntium 5000 0W-30 SM (1 liter)  
168
Syntium 5000 0W-30 SM (4 lite  
637
Syntium 5000 0W-40 SM (1 liter)  
168
Syntium 5000 0W-40 SM (4 liter)  
638
Syntium 5000 5W-40 SM (1 liter)  
120
Syntium 5000 5W-40 SM (4 liter)  
465
Syntium 1000 15W-40 SM (1 liter)  
92.5
Syntium 1000 15W-40 SM (4 liter)  
335
Syntium 800 10W-30 SL (1 liter)  
50
Syntium 800 10W-30 SL (3 liter)  
150
Syntium 800 10W-40 SL (1 liter)  
52
Syntium 800 10W-40 SL (4 liter)  
204.5
Syntium 800 15W-50 SL (1 liter)  
50
Syntium 800 15W-50 SL (4 liter)  
200
Match 5 20W-50 SL  
130
ATF-XP (1 liter)  
60
ATF-D-III G (1 liter)  
46
GL-5 80W-90  
44
REPSOL
Elite Super 20W-50 (1 liter)  
42
Elite Super 20W-50 (4 liter)  
160
Elite Super SJ/SH/CF (1 liter)  
42
Elite Competition 5W-40 SL/CF (1 liter)  
140
Elite Multivalvulas 10W-40 (1 liter)  
50
Elite Megafluc 10W-30 SJ/SH/CF  
50
Super Turbo Diesel 15W-40 (5 liter)  
210
Sene 3 40W (5 liter)  
170
SAINZ
Platinum 5W40 SM/CF  
120
Genius 5W30/SM/CF  
75
Genius 10W40/SM/CF  
70
Dynamic 10W40SL/CF  
55
Dynamic 15W50SL/CF  
45
Dynamic 20W50SL/CF  
42
Turbo Power 15W40  
60
Turbo Fleet 15W/40  
42
ATF-Syn CVT  
70
ATF-Hc  
55
Gear 75W90  
60
Gear 80W90  
45
Gear SAE 90  
45
SHELL
Helix Plus 10W-40 SL/CF (1 liter)  
60
Helix Ultra 5W-40 SL/CF (1 liter)  
160
Helix Ultra 10W-60 SL/CF (4liter)  
450
ATF III G (1 liter)  
55
Synthetic ATF III G (1 liter)  
85
Rimula X 15W-40 CH-4  
40
Advance SX2 (0.8 liter)  
40
Advance SX-4 (0.8 liter)  
26
Advance SX-4 (1 liter)  
30
Spira X G 80W-90 GL-4  
45
Spira X G 75W-90 GL-4  
65
STP
Synthetic Motor Oil 20W-50  
37.5
Synthetic Diesel Oil SAE 40  
37.5
Motor Oil 10W-30 SL  
31
Motor Oil 20W-50 SL  
31
Motor Oil SAE 40 SL  
30
Diesel Motor Oil 15W-40  
31
Diesel Motor Oil SAE 40  
30
Gear Oil 80W-90  
31
Gear Oil 85W-140  
31
Synthetic Gear Oil SAE 90  
37.5
Synthetic Gear Oil 85W-140  
37.5
ATF Dextron-III/Mercon  
37.5
TOP 1
Evolution Racing 10W-60  
110
SMO HP 20W-50 (946 ml/kaleng)  
35
SMO MC 20W-50 (800 cc/kaleng)  
25
Evolution 100% Synth 15W-50  
35.97
Evoluton 100% Synth 10W-60  
67.98
HP Plus 10W-30 API SL  
42.5
Zenzation 10W-40 API SM (946 ml)  
47.5
Zenzation 10W-40 API SM (4 liter)  
185
SDO HD 15W-40 (946 ml)  
28
SDO HD 15W-40 (5 liter)  
140
SGO MB SAE 90 (946 ml)  
32.5
Synthetic ATF Dexron III (946 ml)  
40
TOTAL
Quartz 5000 20W-50 SM (1 liter)  
28.6
Quartz 5000 15W-50 SM (1 liter)  
40
Quartz 5000 15W-50 SM (200 liter)  
5.61
Quartz 7000 10W-40 SM (1 liter)  
53
Quartz 7000 10W-40 SM (4 liter)  
184
Quartz 7000 10W-40SM (200 liter)  
8.075
Quartz 9000 5W-40 SM (1 liter)  
88.5
Quartz 9000 5W-40 SM (200 liter)  
18.7
Rubia XT 15W-40 CF (1 liter)  
32.5
Rubia XT 15W-40 CF (5 liter)  
160
EP Gear GL4 85W-90 (1 liter)  
32.5
AT42 (ATF) Dexron-III  
65
Fluide ATX Dexron-II  
40
VALVO
XLD 20W-50  
25.3
Super HPO 30  
23.1
Super HPO 30  
90.75
Super HPO 40  
23.1
Super HPO 40  
90.75
Super XLD 20W-50  
26.95
Valvo Diesel  
25.85
ATF Dexron II D  
30.25

Sistem pengapian CDI

Sistem pengapian CDI

Capacitor Discharge Ignition (CDI)
merupakan sistem pengapian elektronik yang sangat populer
digunakan pada sepeda motor
saat ini. Sistem pengapian CDI terbukti lebih menguntungkan dan lebih baik
dibanding sistem pengapian konven-sional
(menggunakan platina). Dengan
sistem CDI, tegangan pengapian
yang dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses
pembakaran campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna
Dengan demikian, terjadinya endapan karbon
pada busi juga bisa dihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran platina telah digantikan oleh oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan pulser coil atau “pick-up coil” (koil pulsa generator) yang dipasang dekat flywheel generator atau rotor alternator (kadang-kadang pulser coil menyatu sebagai bagian dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
Secara umum beberapa kelebihan sistem pengapian CDI dibandingkan dengan sistem pengapian konvensional adalah antara lain :
1. Tidak memerlukan penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatis
yang diatur secara
elektronik.
2. Lebih stabil, karena tidak ada loncatan bunga api seperti yang terjadi pada breaker point (platina) sistem pengapian konvensional.
3. Mesin mudah distart, karena tidak tergantung pada kondisi platina.
4. Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga tahan terhadap air dan
goncangan.

5. Pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada titik kontak platina tidak ada.

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI


Pada saat magnet permanen (dalam flywheel
magnet) berputar, maka akan dihasilkan arus listrik AC dalam bentuk induksi listrik dari source coil seperti terlihat pada gambar disamping. Arus ini akan diterima oleh CDI unit dengan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya dirubah menjadi arus setengah gelombang (menjadi arus searah) oleh diode, kemudian disimpan dalam kondensor (kapasitor) dalam CDI unit. Kapasitor tersebut tidak akan melepas arus yang disimpan sebelum SCR (thyristor) bekerja. Pada saat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan arus sinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate) SCR. Dengan adanya trigger (pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari anoda
(A) ke katoda (K).
Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan induksi sendiri. Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut
selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api
yang akan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar. Terjadinya tegangan tinggi pada koil pengapian adalah saat koil pulsa dilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian (Ignition Timing) ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistem pengapian CDI tidak memerlukan penyetelan
waktu pengapian seperti pada sistem pengapian
konvensional. Pemajuan saat pengapian terjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersama dengan bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaran motor. Selain itu SCR pada sistem pengapian CDI bekerja
lebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor
melakukan pengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparan sekunder koil pengapian teriduksi dengan
cepat dan menghasilkan tegangan yang cukup tinggi untuk
memercikan bunga api pada busi.


SISTEM PENGAPIAN BATERAI

21.11.09

Sistem pengapian (Ignition system) pada automobil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi 10 KV atau lebih dengan menggunakan ignition coil di mana tegangan tersebut dibagikan ke tiap busi oleh distributor. Konstruksi sistem pengapian konvensial terdiri atas:
1. Baterai
Baterai menyediakan arus listrik tegangan
rendah (12 V).
2. Ignition coil berfungsi untuk menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian.
3. Distributor terdiri dari atas cam (nok), membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft poros engkol yang tepat untuk masing-masing silinder.
*Breakerpoint (platina)
Memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan jalan induksi magnetik listrik.
* Capasitor atau kondensor
Menyerap loncatan bunga api yang terjadi antara breaker point pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.
* Centrifugal governor advancer
Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.
*Vacuum advancer
Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.
*Rotor
Membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.
*Distributor Cap
Membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
4. Kabel tegangan tinggi(high tension cord)
Mengalirkan ar
us listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
5. Mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga melalui elektrodanya.

SISTEM PENGAPIAN MAGNET

24.11.09

Sistem pengapian ini adalah salah satu sistem pada motor bakar yang penting untuk diperhatikan. Sistem penyalaan ini erat hubungannya dengan tenaga (daya) yang dibangkitkan oleh suatu mesin. Apabila sistem ini tidak bekerja dengan baik dan tepat, maka hal ini dapat mengganggu kelancaran pembakaran dengan bahan bakar dan udara di dalam selinder, sehingga tenaga yang dihasilkan oleh mesin berkurang. Pada sistem baterai, supply arus listrik berasal dari baterai, sedangkan pada sistem magnet arus listrik berasal dari generator AC.

Tiger vs Thunder vs Scorpio

Tiger vs Thunder vs Scorpio

Honda Tiger 2000
Mungkin dulu sudah banyak yang membaca artikel komparasi antara Tiger 2000 vs Thunder 250 vs Scorpio di tabloid OTOMOTIF? Kebetulan artikel tersebut menjadi salah satu artikel tabloid OTOMOTIF favorit saya, jadi saya coba posting lagi di blog ini sekaligus sedikit komentar tentang komparasi tersebut :mrgreen:

Auoooo…! Bukan cari sensasi Tarzan datang ke kota. Ia penasaran, katanya lalu-lintas hutan beton di kota-kota besar cuma beda setipis kulit bawang dengan hutan rimba. Apalagi sejak eksekutif muda dan young urban bermobil sering terserang sakit kepala tiap hari. Bangun jam 5 pagi, mandi, sarapan dan bergegas kerja. Jarak cuma 20 km-an rumah-kantor bagaikan siksaan yang tak terhindar. Ribuan mobil bertarung mengais sisa ruas jalan mirip di hutan rimba. Bayangan telat ngantor, meeting menggunung sampai bos nyap-nyap menambah puyeng.
Stop! Obatnya bukan paracetamol atawa daun obat. Coba simpan mobil Anda dulu di garasi dan pilih varian bergengsi motor jenis sport ini. Ada Honda Tiger 2000, Suzuki Thunder 250 dan Yamaha Scorpio Z. Ini solusi alternatif hemat dan cepat. “Mungkin mirip berayun-ayun di dahan pohon,” gumam Tarzan. Sayang Simba dan Jane absen melihat tes ini. Apa boleh buat the test must go on..

MODEL

Enggak ada yang lebih sensitif menilai sebuah sosok selain seekor binatang. “Errggh..untung datang si Cheetah,” girang Tarzan, setengah memanggil sang monyet. Sambil basa-basi dan rembukan sebentar mereka mulai angkat bicara. Thunder bentuknya simpel banget. Lihat saja tangki dan buritan, cuma bulat, sedikit lurus dan bulat lagi. Kalau ada lomba menggambar Thunder, pesertanya pasti mampu menyelesaikan dengan cepat. Sst..Thunder juga kental sekali nuansa petualangnya.
Bagaimana dengan Scorpio? “Ehm, modelnya lelaki banget gitu lo..,” bisik Cheetah dengan bahasa hutan yang ejaannya disempurnakan. Coba lihat bentuk bodi belakang, lurus dan tegas. Sebagian bilang jadi terlalu kaku. Namun secara keseluruhan membuatnya terlihat jantan. Menurut pabrikan garpu tala, desain dan karakternya dibuat mirip RX-King kombinasi RX-Z. Berbeda dengan tampang Tiger, “Kalau dilihat bisa meruntuhkan hati Jane,” tambah Tarzan sambil tersenyum simpul. Maksudnya, Tiger itu gagah, ada aroma kelembutan di desainnya dan juga atraktif. “Ini bukan karena si macan teman kita lo,” kekeh Cheetah.
Komen saya (tulisan italic): secara model (dari dulu mpe sekarang) Tiger memang paling bagus, tp scorpio CW lansiran 2009 juga kelihatan lebih bagus dari versi jari-jari. Bahkan kalau diganti ban ukuran 130 (belakang) Scorpio tampak paling manis karena monoshocknya. Untuk lampu depan saya paling suka lampu Thunder 250 dan lampu picek tiger baru
KONSUMSI BBM
Tarzan bingung, rimba belantara Indonesia lagi kesulitan sumber daya minyak bumi. Suatu langkah bijak bila ia memilih tunggangan yang konsumsi BBM-nya irit. Namun di sisi lain ketiga motor punya kelebihan yang ia sukai. Jadi, harus mengorbankan yang mana?
Lewat pengujian konsumsi BBM pada ketiga motor, Tiger paling irit. Baik dalam kondisi lalu lintas rimba perkotaan yang sarat kemacetan dan sering melakukan ’stop and go’, maupun lintas luar kota. Untuk pemakaian normal di perkotaan, satu liter bisa 40 km. Sementara Thunder 250 hanya 30 km. Sedang Scorpio paling boros, yakni cuma 28 km. Pada pemakaian jarak jauh dengan hambatan lebih sedikit, Tiger paling irit disusul Thunder dan Scorpio.
Wajar tigy paling irit karena cc paling kecil, aneh juga ya ternyata pio lebih boros dari thunder
Data konsumsi BBM:
Motor, Dalam kota,Luar kota
Honda Tiger, 40 km/liter, 42 km/liter
Yamaha Scorpio Z, 28 km/liter,29,5 km/liter
Suzuki Thunder 250, 30 km/liter, 31 km/liter

Yamaha Scorpio
PERFORMA
Bicara performa, Tarzan jadi ingat cheetah, sprinter ulung pemburu rusa di hutan rimba. Rekornya 0-100 km/jam dalam 5 detik. Siapa ya yang bisa menyamainya? Kalau Tiger performanya lumayan. Memang untuk akselerasi di putaran bawah, Tiger paling lemah. Tetapi bila sudah bermain di putaran menengah ke atas, performanya ganas lo. Top speed bisa mencapai 140 km/jam. Pas deh buat dipakai lintas jarak jauh
Berbeda dengan Thunder, justru power mesin dahsyat di putaran bawah hingga tengah. Sedang atasnya terasa seperti cepat habis. Tak heran bila top speednya tak beda jauh dengan Tiger. Namun karakter tenaga seperti itu eces buat menerabas medan mendaki. Serta tidak kesulitan mengangkut beban berat. Jagoan Suzuki ini dijejali teknologi Twin Swirl Combustion Chamber (TSCC) sehingga pengabutan udara dan bahan bakar di ruang bakar berefek putaran kembar. Akibatnya pembakaran makin cepat dan dahsyat. Apalagi menganut jumlah katup 4 (dua isap, dua buang).
Nah, kalau Scorpio Z sanggup menutupi kekurangan Tiger maupun Thunder 250. Mulai dari putaran bawah hingga atas, tenaga mesin seperti tak ada putus-putusnya. Terbukti saat pengetesan akselerasi (lihat data pengetesan) si Kalajengking selalu yang tercepat. Wajar jika mengingat basis mesin yang dipakai asalnya dari jenis trail, yakni Yamaha Serrow. “Mesin Serrow dikembangkan lagi dan di sesuaikan buat jalan raya. Pokoknya karakter tenaga dibuat semirip mungkin dengan Yamaha RX-King,” bilang Gatot Subagyo, dari divisi sport PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI).
Saya kurang setuju kalau top speed tigy disebut Otomotif sampai 140 kpj, tigy saya dulu dan teman-teman KHTI walau sudah diporting (maupun yang sudah dioprek) hanya mentok 120 Kpj saja. Jika dioprek hanya menambah akselerasi, salah seorang member KHTI yaitu Bung Citra yang bukan BCL :P pernah mencoba tigernya yang sudah dioprek di Sentul dan top speed hanya 130 Kpj. FYI dalam keadaan standar Scorpio milik bikers yang aktif di beberapa forum Erwe hanya mentok 120 Kpj (mungkin pio lain juga sama), setelah dioprek baru bisa tembus 140 Kpj. Top speed Thunder 250 saya tidak tahu karena belum pernah mencoba
Data pengetesan akselerasi
AkselerasiTiger; Scorpio Z;Thunder 250
0 – 60 km/jam;3,72 detik3,36 detik; 3,55 detik
0 – 80 km/jam; 6,65 detik 5,21 detik;5,81 detik
0 – 100 meter; 6,87 detik, 6,61 detik; 6,64 detik
0 – 201 meter; 10,99 detik,10,45 detik 11,05 detik
HANDLING
Hutan rimba penuh pepohonan rapat ibarat kota besar yang sarat kemacetan kendaraan. Untuk kondisi seperti itu, Tarzan yakin motormania perlu tunggangan gesit dan licah. Mampu meliuk-liuk di kerapatan pohon, eh, lalu lintas dengan mudah. Tiger sanggup memenuhi kriteria itu, Sebab, selain bobotnya paling enteng ketimbang Scorpio Z dan Thunder 250, posisi setangnya juga mendukung. Namun ketika mencoba Scorpio, kelincahannya malah lebih mantap. Bisa jadi karena sumbu rodanya paling pendek, yakni 1.295 mm saja. Berbeda dengan pesaingnya yang bermain di angka 1.300 mm ke atas. Hanya saja, untuk menikung rebah, sedikit ngeri lantaran posisi bagian depan serta setang Scorpio agak tinggi. Berbeda dengan Tiger yang agak pendek. Sehingga tidak ragu buat menikung tajam. Kalau Thunder 250, cukup kesulitan bila diajak nyelip-nyelip di kemacetan. Maklum, selain berat, posisi setang yang tinggi serta sudut caster lebar (28º) membuatnya kurang licah meliuk-liuk. Namun kala dipakai buat turing luar kota, kenyamanan sip banget. Posisi berkendaranya terasa sangat santai. Tangan dan badan tidak cepat pegal.
Lain halnya bila melintas tikungan bumpy. Serahkan pada Scorpio, lantaran motor berlambang garpu tala ini didukung sistem suspensi Monocross yang empuk. Tak usah ragu untuk memelintir grip gas, soalnya tetap stabil.
HARGA
Sebelum memutuskan membeli motor, Tarzan itung-itungan duit dalam kantong. Kira-kira mau bawa pulang yang mana ya? Lihat tuh Tarzan mulai kebingungan. Sebab banderol yang ditetapkan masing-masing pabrikan cukup berimbang. Honda Tiger ada dua pilihan. Bila terpikat pelek racing (CW) siapkan dana lebih atau versi jari-jari lebih hemat Rp. 1,7 juta.
Harga Honda Tiger CW berimpitan dengan Suzuki Thunder 250. Nah, tambah sulit mengambil keputusan bukan? Bila memilih kapasitas gambot (250 cc), Thunder bisa dilirik. Tapi masih pakai pelek jari-jari lo.
Sedangkan banderol Honda Tiger tipe lainnya berantem dengan Yamaha Scorpio Z. Keduanya sama-sama pakai pelek jari-jari. Meskipun Scorpio kapasitasnya 25 cc lebih besar tetapi harganya lebih murah Rp. 15 ribu. Selisihnya cukup mepet. Makanya komparasi harga ketiganya OTOMOTIF anggap berimbang.
HARGA ON THE ROAD JAKARTA
Honda Tiger CW Rp. 20.430.000
Honda Tiger Rp. 18.730.000
Yamaha Scorpio Z Rp. 18.715.000
Suzuki Thunder 250 Rp. 20.500.000
Ketelitian Tarzan patut diteladani. Pertimbangannya enggak sekedar model, harga, konsumsi bensin maupun performa. Kelengkapan fitur sodoran pabrikan juga dijadikan acuan. Setelah lirik sana-sini, kekurangan pun mulai ditemukan.
Indikator penunjuk bahan bakar Suzuki Thunder 250 tidak ditemukan. Tapi kran manual bensinnya sudah dilengkapi posisi rest. Berbeda dengan lawannya Honda Tiger dan Yamaha Scorpio Z. Selain kran manual (dilengkapi rest) juga disertakan jarum penunjuk indikator bensin. Gampang dilihat guna mengingatkan pengemudi waktunya masuk SPBU.
Berbeda dengan Scorpio maupun Tiger yang tetap mengandalkan teknologi konvensional. Nah, adanya plus dan minus fitur tadi skor dianggap seimbang
Suzuki Thunder 250
Data spesifikasi
Honda Tiger 2000
Panjang X lebar X tinggi : 1.990 x 742 x 1.035 mm; Jarak sumbu roda : 1.330 mm;
Jarak terendah ke tanah : 145 mm; Tinggi jok : 780 mm; Berat kosong : 123 kg;
Suspensi depan : Teleskopik; Suspensi belakang : Lengan ayun dengan sok breker ganda;
Ban depan : 2.75 x 18; Ban belakang : 100/90 – 18 – 47P;
Rem depan : Cakram hidraulis, 2 piston; Rem belakang : Teromol;
Kapasitas tangki BBM : 13 Liter;
Tipe mesin : 4 Langkah OHC, pendinginan udara;
Diameter x langkah : 63,5 x 62,2 mm;
Volume langkah : 196,9 cc;
Perbandingan kompresi : 9,0 : 1;
Daya maksimum : 17,4 PS / 8.500 rpm;
Torsi maksimum : 1,62 kgf.m / 7.000 rpm;
Sistem pengapian : AC-CDI; Karburator : Keihin 26 mm; Kopling : Manual , tipe basah; Gigi transmsi : 6 kecepatan
Yamaha Scorpio
Panjang X lebar X tinggi : 2.020 x 770 x 1.090 mm;
Jarak sumbu roda : 1.295 mm; Berat kosong : 125 kg;
Suspensi depan : Teleskopik; Suspensi belakang : Lengan ayun, Monocross;
Ban depan : 80/100-18; Ban belakang : 100/90 – 18
Rem depan : Cakram hidraulis; Rem belakang : Teromol;
Kapasitas tangki BBM : 13,5 Liter;
Tipe mesin : 4 Langkah SOHC, pendinginan udara ;
Diameter x langkah : 70 x 58 mm; Volume langkah : 223 cc; Perbandingan kompresi : 9,5 : 1;
Sistem pengapian : DC-CDI; Karburator : Mikuni BS 30 mm; Kopling : Manual , tipe basah; Gigi transmsi : 5 kecepatan
Suzuki Thunder 250
Panjang X lebar X tinggi : 1.975 x 765 x 1.075 mm;
Jarak sumbu roda : 1.310 mm; Berat kosong : 132 kg;
Suspensi depan : Teleskopik; Suspensi belakang : Lengan ayun, sokbreker ganda;
Ban depan : 3.00 x 18; Ban belakang : 120/80 – 17;
Rem depan : Cakram hidraulik; Rem belakang : Teromol; Kapasitas tangki BBM : 15 Liter;
Tipe mesin : 4 Langkah OHC, TSCC, pendinginan udara;
Diameter x langkah : 72 x 61,2 mm; Volume langkah : 249 cc; Perbandingan kompresi : 9,0 : 1 ;
Sistem pengapian : CDI; Karburator : Mikuni BSR 32 mm; Daya maksimum : 20 dk / 7.500 rpm; Torsi maksimum : 2,1 kg-m / 6.000 rpm; Kopling : Manual , tipe basah; Gigi transmsi : 5 kecepatan
KESIMPULAN
Agak sukar menentukan mana yang terbaik. Semua kontestan sama bagusnya dan sama-sama punya karisma. ‘Rapat belakang’, begitu meniru istilah sopir metromini yang tertawa menonton sesi pemotretan Tarzan di Senayan, Jakarta ini.
Bayangin saja, Honda Tiger telah menghipnotis motormania hampir 11 tahun sejak kemunculan perdananya pada 1994. Separuh waktu dari kesendiriannya, Tiger telah menancapkan benak orang dengan kata: mirip ‘moge’, kencang, irit, bisa buat ‘nampang’ hingga harga jual yang baik. Tiga kali minor change di seputar pelek, buritan hingga stripping body, sekadar mengusir kebosanan. Sst..konon sebentar lagi akan tambah satu magnet lagi, mesin 250 cc! Anyway, Tigerlah sebagai pionir yang berhasil mengedukasi pasar akan sebuah motor di kelas 200 cc.
Thunder enggak kalah hebat. Meski datang kedua langsung menggebrak dengan 250 cc dan 4 katup. Menggoda batas angka psikologis kerinduan esmud akan motor ala moge yang legal. Teruji dengan mengikuti Suzuki jelajah negeri. Scorpio si bungsu datang bermain cantik dengan mesin 225 cc. Mengail penggemar dan ceruk kosong antara Tiger dan Thunder. Lebih irit dari Thunder tetapi lebih kencang dibanding Tiger. Kira-kira begitu pesan kedatangannya. Dan tes kami membuktikan logika ini benar adanya!
So siapa pemenangnya? Ehm, posisi teratas adalah: Honda Tiger! Tarzan dan Cheetah enggan berkomentar lagi soal ini. Cuma bilang lihat detailnya di tabel penilaian dan aauuuooooo…!
Penilaian
Yamaha Scorpio; Suzuki Thunder; Honda Tiger
Model(x6); 3= 18; 3=18; 3=18
Harga(x5); 3=15; 3=15;3=15
Konsumsi BBM(x4); 2=8; 3=12;4=16
Performa(x3); 4=12; 3=9; 3=9
Fitur(x2); 4=8; 4=8; 4=8
Handling(x1); 4=4; 2=2; 3=3

daftar harga oli terbaru

NO MERK OLI MESIN KEMASAN API SERVICE JUAL/PC *HARGA BISA
BERUBAH SEWAKTU-WAKTU TANPA PEMBERITAHUAN TERLEBIH DAHULU*

1 AGIP 4T SUPER 20W/50 0,8 L SG Rp17,000

2 AGIP 4T SUPRA 20W/50 0,8 L SJ Rp24,500

3 BM1 PC1000 15W/50 0,8 L SJ Rp29,000

4 CASTROL AKTIV 4T 20W/50 0,8 L SG Rp18,500

5 CASTROL AKTIV GO 4T 20W/40 0,8 L SF Rp19,000

6 CASTROL POWER 1 4T 15W/40 0,8 L SG Rp23,000

7 FEDERAL SUPREME XX 20W/50 0,8 L SJ Rp23,500

8 FEDERAL ULTRATECH 20W/50 0,8 L SF Rp19,500

9 MESRAN ENDURO 20W/50 0,8 L SJ Rp20,000

10 MOTUL GOLD 3100 15W/50 4T 0,8 L SL Rp33,000

11 PENZOIL 4T FAST TRACT 20W/50 0,8 L SH Rp20,000

12 REPSOL MOTO 4T SUPER 20W/50 0,8 L SJ Rp23,500

13 REPSOL MOTO 4T STD 15W/50 0,8 L SG Rp28,000

14 REVTEX 4T SUPER 20W/40 0,8 L SG Rp22,000

15 SHELL ADV 4T SX 15W/50 0,8 L SG Rp19,500

16 SYNPRO SYNTEX 15W/50 0,8 L SJ Rp28,000

17 TOP 1 MC 20W/50 0,8 L SH Rp21,500

18 TOP 1 MC EVOLUTION 15W/50 0,8 L SL Rp35,000

19 YAMALUBE 4T 20W/40 0,8 L SJ Rp20,500

NO MERK OLI MESIN KEMASAN API SERVICE JUAL/PC

1 BM1 PC1000 15W/50 1 L SJ Rp33,000

2 ESSO SUPER FLO 15W/50 1 L SL Rp33,000

3 FEDERAL ULTRATECH 20W/50 1 L SF Rp20,500

4 MESRAN ENDURO 20W/50 1 L SJ Rp21,000

5 MESRAN FASTRON 20W/50 1 L SJ Rp24,000

6 MESRAN PRIMA XP 20W/50 1 L SJ Rp21,000

7 MESRAN SAE 40 1 L SE Rp18,000

8 MESRAN SUPER 20W/50 1 L SG Rp18,500

9 MOTUL 4T � 5100 ESTER 15W/50 1 L SG Rp55,000

10 MOTUL GOLD 3100 15W/50 4T 1 L SL Rp35,000

11 REPSOL ELITE SUPER 20W/50 1 L SJ Rp29,000

12 REPSOL MOTO 4T STD 15W/50 1 L SG Rp31,500

13 REPSOL MOTO 4T SINTETICO 10W/40 1 L SJ Rp44,000

14 REVTEX 4T SUPER 20W/40 1 L SG Rp24,000

15 SHELL HELIX SUPER 15W/50 1 L SL Rp28,000

16 TITAN FUCHS SUPER GT 20W/50 1 L SL Rp30,000

17 TOP 1 HP 20W/50 1 L SL Rp28,500

18 TOP 1 MC 20W/50 1 L SH Rp24,000

19 TOP 1 SUPER SYNTHETIC 10W/40 1 L SL Rp30,000

20 PENZOIL MC 20W/50 1 L SG Rp17,000

NO MERK OLI SAMPING KEMASAN API SERVICE JUAL/PC

1 AGIP 2T PLUS 0,8 L TC Rp15,500

2 AGIP 2T SMOKE LESS 0,8 L TC Rp18,500

3 CASTROL AKTIV 2T LOW SMOKE 0,7 L N/A Rp19,000

4 CASTROL GO 2T NEW 0,7 L N/A Rp16,500

5 CASTROL POWER 1 2T 0,7 L N/A Rp21,000

6 ESSO 2T POWER 0,8 L TC Rp18,000

7 EVALUBE 2T 0,8 L TB Rp12,500

8 MOTUL 2T � 5100 ESTER 0,8 L TC Rp28,500

9 PENZOIL 2T FAST TRACT 0,8 L N/A Rp22,000

10 REPSOL MOTO 2T STANDARD 0,8 L TC Rp30,000

11 REVTEX 2T SUPER 0,7 L TC Rp18,000

12 SHELL ADV 2T SX 0,8 L N/A Rp18,500

13 TOP 1 2T LOW SMOKE 0,8 L N/A Rp18,000

14 VISTRA 2T 300 SYNTHETIC 1 L TC Rp20,000

15 YAMALUBE 2T 0,8 L N/A Rp20,000

Harga dalam ribuan

AGIP
SINT Evolution OW30  
155
Extra HTS 5W-40, SL/CF  
122
Sint 2000 10w-40 SJ/CF  
75
Formula 2000 10W-40 SJ/CF  
55
Super MOTOR OIL 20W-50 SG/CF  
38
Diesel Sigma Plus 40 CF/SF  
27
Sigma Turbo 15 W-40 CG-4/SG  
40
Racing 4T, Full Synthetic  
85
ARAL
Super Tronic G 0W-30  
264
Super Tronic E 0W-30  
230
Super Tronic B 5W-30  
230
Super Tronic 0W-40  
230
High Tronic F 5W-40  
170
High Tronic F 5W-30  
170
Blue Tronic 10W-40  
99.2
Multi Elastic 15W-40  
56.1
Extra Turboral 10W-40  
88
Multi Turboral 15W-40  
93.5
Plus Turboral 15W-40  
56.1
BS LSX 75W-140  
286
BS 75W-90  
286
Hyp Synth 75W-90  
176
Hyp LS 85W-90  
99
Hyp 85W-90  
99
Ep Synth 75W-90  
176
ATF E-S  
286
ATF 55-III  
104.5
TOP ATF III  
90
90  
90
CASTROL
EDGE 5W-40  
150
EDGE 0W-40  
230
CRB 20W-40 CF/SF (1 liter)  
32
GTX 20W-50 SL/CF  
40
GTX DIESEL 15W-40 (1 liter)  
40
EP 90 GL-4 (1 liter)  
32.5
GTX 20W-50 SL/CF (4 liter)  
160
MAGNATEC 10W-40 SM/CF (1 liter)  
62.5
MAGNATEC 10W-40 SM/CF (4 liter)  
240
CRB 20W-40 CF/SF (4 liter)  
120
ELF
Excellium 229 5W-30 SM  
210
Excellium GP 5W-40 SL  
150
Competition 10W-40 SM  
67.5
Super Sporti XP 15W-50 SL  
40
Turbo Diesel 10W-40 CF/B4 (5 liter)  
300
Elfmatic G3 D III  
55
GearElf-5 80W-90 GL-5  
50
ENEOS
Touring 20W-50 SJ/CF  
45
Touring Gear GL-5 85W-90  
45
ATF Multi  
80
ATF CVT Multi  
85
Molybdenum API SL/CF 10W-40 (1 liter)  
60
Molybdenum API SL/CF 10W-40 (4 liter)  
210
Pro Racing 5W-50 SL/CF  
125
Pro Racing 0W-50 SM/CF  
150
FINA
Fina First 5W-40 Full Synthetic  
145
Ekofina Turbo 10W-40  
75
Pontonic LS Extreme Pressure 80W-90  
75
FUCHS
Titan Supersyn SL 5W-50 (1 liter)  
110
Titan Supersyn SL 5W-40 (1 liter)  
110
Titan Super DX 15W-40 (1 liter)  
42.5
Titan Super GT 20W-50 (1 liter)  
42.5
Titan Super GT 0W-20 (1 liter)  
110
Titan Carat MC 15W-50 (1 liter)  
65
Titan Carat MC 10W-40 (1 liter)  
65
Titan 5 Speed SL 75W-90 (1 liter)  
52.5
Titan Super Gear MC 80W-90  
50
Titan ATF 3000  
55
Titan ATF 3300  
80
IGOL
Symbol Ceramics F1 5W-40 (2 liter)  
400
Process 10W-40 (1 liter)  
108
Process 15W-50 (1 liter)  
90
Process MB 0W-30 (1 liter)  
210
Process A5/B5 5W-30 (1 liter)  
140
Process Compact 5W-30 (1 liter)  
180
Trans Turbo 5X 15W-40 (2 liter)  
80
Hypoid B90 SAE 90 (2 liter)  
105
ATF 420 Dextron IID (1 liter)  
102
ATF 430 Dextron IIIG-34467 (1 liter)  
116
STS R Competition (2 liter)  
190
RR Symbol 10W-50 (1 liter)  
164
Propula Custom 20W-50 (1 liter)  
Propula Custom 20W-50 (1 liter)
Propula Racing 10W-50 (1 liter)  
146
INDOMOBIL OIL
Supersyn Gold 10W40 SL (0,8 liter)  
26
Supersyn Gold 10W40 SL (1 liter)  
30
MOBIL
Mobil 1 5W-50 Full Synthetic  
185
Mobil 1 0W-40  
200
Super S 10W-40, Semi Synthetic  
85
Super XHP 15W-50  
65
Super S Diesel 15W-40  
65
Delvac MX 15W-40 (5 liter)  
250
Delvac MX 15W-40  
50
ATF 220 D II  
55
MOTUL
Multi Power 15W-50 (1 liter)  
75
Multi Power 20W-50 (1 liter)  
75
H-Tech 100 5W-30 (1 liter)  
106
H-Tech 100 Plus 5W-30 (1 liter)  
106
6100 Synergie 15W-50  
108
6100 Synergie 10W-40  
131
Tekma Mega X 15W-40 (4 liter)  
245
300 V Competition 15W-50 (2 liter)  
666.6
300 V High RPM 0W-20 (2 liter)  
666.6
300 V Power Racing 5W-30 (2 liter  
666.6
300 V Power Racing 5W-30 (2 liter  
666.6
300 V Chrono 10W-40 (2 liter)  
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)  
300 V Le Mans 20W-60 (2 liter)
300 V Factory Line 5W-30  
275
300 V Factory Line 15W-50  
275
300 V Factory Line 4T 5W-40  
275
Multi Power Plus 10W-40 (1 liter)  
88.75
8100 X-Cess 5W40 (1 liter)  
165
HDX 80W-90 (1 liter)  
98.1
Dexron III (1 liter)  
145
ATF 1A (1 liter)  
150
PERTAMINA
Fastron 0W-50 API SL (1 liter)  
107
Fastron 10W-40 API SL (1 liter)  
37.5
Fastron 10W-40 API SL (4 liter)  
144.5
Fastron 20W-50 API SL (1 liter)  
31.5
Fastron 20W-50 API SL (4 liter)  
120
Fastron 20W-50 API SJ (1 liter)  
29
Prima XP 10W-40 API SL (1 liter)  
30.5
Prima XP 10W-40 API SL (4 liter)  
114
Prima XP 20W-50 API SJ (1 liter)  
25.5
Prima XP 20W-50 API SJ (4 liter)  
89
Mesran Super 20W-50 SG/CD (1 liter)  
21.85
Mesran Super 20W-50 SG/CD (4 liter)  
76
Mesran Super 20W-50 API SG/CD (5 liter)  
82
Mesran 40 (1 liter)  
18.4
Mesran 40 (4 liter)  
53
Mesran B 40 (1 liter)  
19.35
Mesran B 40 (4 liter)  
57
Mesran B 40 (5 liter)  
68.5
Mesran B 40 (10 liter)  
134
Meditran S 40 (1 liter)  
19.65
Meditran S 40 (5 liter)  
81.5
Meditran S 40 (10 liter)  
143
Meditran SC 15W-40 (1 liter)  
22.45
Meditran SC 15W-40 (5 liter)  
161
Meditran SX 15W-40 CH-4 (1 liter)  
24.6
Meditran SX 15W-40 CH-4 (4 liter)  
86
Meditran SX 15W-40 CH-4 (10 liter)  
210
Rored EPA 90 (4 liter)  
76
Rored EPA 90 (5 liter)  
92
Rored EPA 140 (4 liter)  
72
Rored EPA 140 (5 liter)  
87
Rored HDA90 (4 liter)  
90
Rored HDA90 (5 liter)  
108
Rored HDA140 (4 liter)  
90
Rored HDA140 (5 liter)  
108
ATF D III (1 liter)  
31
PETRONAS
Syntium 5000 0W-30 SM (1 liter)  
168
Syntium 5000 0W-30 SM (4 lite  
637
Syntium 5000 0W-40 SM (1 liter)  
168
Syntium 5000 0W-40 SM (4 liter)  
638
Syntium 5000 5W-40 SM (1 liter)  
120
Syntium 5000 5W-40 SM (4 liter)  
465
Syntium 1000 15W-40 SM (1 liter)  
92.5
Syntium 1000 15W-40 SM (4 liter)  
335
Syntium 800 10W-30 SL (1 liter)  
50
Syntium 800 10W-30 SL (3 liter)  
150
Syntium 800 10W-40 SL (1 liter)  
52
Syntium 800 10W-40 SL (4 liter)  
204.5
Syntium 800 15W-50 SL (1 liter)  
50
Syntium 800 15W-50 SL (4 liter)  
200
Match 5 20W-50 SL  
130
ATF-XP (1 liter)  
60
ATF-D-III G (1 liter)  
46
GL-5 80W-90  
44
REPSOL
Elite Super 20W-50 (1 liter)  
42
Elite Super 20W-50 (4 liter)  
160
Elite Super SJ/SH/CF (1 liter)  
42
Elite Competition 5W-40 SL/CF (1 liter)  
140
Elite Multivalvulas 10W-40 (1 liter)  
50
Elite Megafluc 10W-30 SJ/SH/CF  
50
Super Turbo Diesel 15W-40 (5 liter)  
210
Sene 3 40W (5 liter)  
170
SAINZ
Platinum 5W40 SM/CF  
120
Genius 5W30/SM/CF  
75
Genius 10W40/SM/CF  
70
Dynamic 10W40SL/CF  
55
Dynamic 15W50SL/CF  
45
Dynamic 20W50SL/CF  
42
Turbo Power 15W40  
60
Turbo Fleet 15W/40  
42
ATF-Syn CVT  
70
ATF-Hc  
55
Gear 75W90  
60
Gear 80W90  
45
Gear SAE 90  
45
SHELL
Helix Plus 10W-40 SL/CF (1 liter)  
60
Helix Ultra 5W-40 SL/CF (1 liter)  
160
Helix Ultra 10W-60 SL/CF (4liter)  
450
ATF III G (1 liter)  
55
Synthetic ATF III G (1 liter)  
85
Rimula X 15W-40 CH-4  
40
Advance SX2 (0.8 liter)  
40
Advance SX-4 (0.8 liter)  
26
Advance SX-4 (1 liter)  
30
Spira X G 80W-90 GL-4  
45
Spira X G 75W-90 GL-4  
65
STP
Synthetic Motor Oil 20W-50  
37.5
Synthetic Diesel Oil SAE 40  
37.5
Motor Oil 10W-30 SL  
31
Motor Oil 20W-50 SL  
31
Motor Oil SAE 40 SL  
30
Diesel Motor Oil 15W-40  
31
Diesel Motor Oil SAE 40  
30
Gear Oil 80W-90  
31
Gear Oil 85W-140  
31
Synthetic Gear Oil SAE 90  
37.5
Synthetic Gear Oil 85W-140  
37.5
ATF Dextron-III/Mercon  
37.5
TOP 1
Evolution Racing 10W-60  
110
SMO HP 20W-50 (946 ml/kaleng)  
35
SMO MC 20W-50 (800 cc/kaleng)  
25
Evolution 100% Synth 15W-50  
35.97
Evoluton 100% Synth 10W-60  
67.98
HP Plus 10W-30 API SL  
42.5
Zenzation 10W-40 API SM (946 ml)  
47.5
Zenzation 10W-40 API SM (4 liter)  
185
SDO HD 15W-40 (946 ml)  
28
SDO HD 15W-40 (5 liter)  
140
SGO MB SAE 90 (946 ml)  
32.5
Synthetic ATF Dexron III (946 ml)  
40
TOTAL
Quartz 5000 20W-50 SM (1 liter)  
28.6
Quartz 5000 15W-50 SM (1 liter)  
40
Quartz 5000 15W-50 SM (200 liter)  
5.61
Quartz 7000 10W-40 SM (1 liter)  
53
Quartz 7000 10W-40 SM (4 liter)  
184
Quartz 7000 10W-40SM (200 liter)  
8.075
Quartz 9000 5W-40 SM (1 liter)  
88.5
Quartz 9000 5W-40 SM (200 liter)  
18.7
Rubia XT 15W-40 CF (1 liter)  
32.5
Rubia XT 15W-40 CF (5 liter)  
160
EP Gear GL4 85W-90 (1 liter)  
32.5
AT42 (ATF) Dexron-III  
65
Fluide ATX Dexron-II  
40
VALVO
XLD 20W-50  
25.3
Super HPO 30  
23.1
Super HPO 30  
90.75
Super HPO 40  
23.1
Super HPO 40  
90.75
Super XLD 20W-50  
26.95
Valvo Diesel  
25.85
ATF Dexron II D  
30.25

yamaha new scorpio vs honda tiger

Perihal Desain dan  Tampilan dari  Motor Facelift
Yamaha New Scorpio dan Honda Tiger Revolution sama sama mengandalkan facelift dalam menyegarkan tampilanya. Jadi bisa dibilang nggak usah repot menilai mesin. Nah buat kategori ini subjektif banget sih. Tapi kalo menurut mbah masing masing ada plus minusnya. Ini subjektif mbah ya, … mulai dari ban depan, batok lampu sampai tangki mbah pilih desain Tiger Revolution. Kenapa? seolah terjadi kesinambungan antara penempatan ban, spakbor hingga posisi headlamp terhadap shroud air scoop tangki. Hal yang berlawanan justru terjadi sebaliknya di Scorpio. Sedangkan dari tangki ke belakang tampilan New Scorpiop lebih modern, apalagi dengan suspensi monoshocknya. Sayang New Scorpio belum menganut cakram belakang. Ini berpengaruh besar dari tampilanya.
Kesmipulan : Honda Tiger (1) unggul tipis di sektor ini dibanding Yamaha Scorpio (0)
Performa dari the two old Dogs !
Yamaha New Scorpio :
  • Gearbox : Manual 5 speed
  • Tenaga : 18.2 ps / 8000 rpm
  • Torsi : 17.5 nm / 6500 rpm
  • Bobot : 141 kg
  • Power to Weight Ratio : 0.12 hp / kg
Honda new Tiger Revolution
  • Gearbox : Manual 6 speed
  • Tenaga : 16.7 ps / 8500 rpm
  • Torsi : 16.0 nm / 6000 rpm
  • Bobot : 139 kg
  • Power to Weight Ratio : 0.12 hp / kg
Sepertinya untuk di sektor ini yah No Contest lah! Yamaha Scorpio unggul dibanding Honda Tiger revolution. Apalagi bila dikaitkan dengan faktor yang akan dikomparasikan yaitu sasis. meski power to weight rationya serupa tetapi nanti di putaran atas akan ada perbedaan tipis.
Kesimpulan : Honda Tiger (1)  Kalah tipis di sektor ini dibanding Yamaha Scorpio (1)
Frame : Stereo dan Monoshock is matter !
Sebut saja motor modern. Suspensi monoshock mutlak lebih unggul dibanding suspensi stereo. Perihal ambles tidaknya suspensi itu berkaitan dengan kwalitas produksi pabrikan. Namun dalam prinsipnya jelas Suspensi Monoshok lebih baik untuk bermanufer dan meredam bobot.
Kesimpulan : Honda Tiger (1)  Suspensi monoshock Yamaha Scorpio memberi keunggulan (2)
Harga Motor dan Value for money
Harga honda tiger Revolution lebih mahal ketibang Yamaha new Scorpio. Tetapi melihat kesuksesan keduanya di pasar memang membuktikan Tiger lebih diminati dibanding kalajengking. Imbasnya resale value honda Tiger lebih baik sedikit dibanding Yamaha Scorpio yang kurang populer.
Kesimpulan : Honda Tiger (2) memiliki harga dan resale value lebih oke dibanding Yamaha Scorpio (2)’
Final Verdict
Baik Yamaha Scorpio dan Honda Tiger merupakan produk Facelift. Setelah dikomparasi keduanya sama baik, tetapi masalahnya Tiger Revolution merupakan produk Iconic sebaliknya Scorpio memang nggak pernah benar benar bisa menjadi penantang Tiger. Belum lagi Scorpio juga dikeroyok oleh V-Ixion dan sebentar lagi Byson yang benar benar menggoda. Sebaliknya NMP dengan pas di posisikan berbeda dengan si macan. Nah kayaknya untuk ini mbah ngikutin selera pasar, Tiggy Revolution sedikit unggul dibandingkan Scorpio. Jika ngebet yamaha kok mbah milih Byson ya ;)

Sabtu, 30 Juli 2011

internetan dengan modem hp

Perlu anda ketahui sebenarnya Ponsel atau handphone bisa kita gunakan sebagai modem / koneksi internet, baik menggunakan Operator Indosat (IM3, mentari atau IM2) Kali ini ESC creation akan membahas langkah-langkah penggunaan Ponsel / HP Sony Ericsson sebagai koneksi internet.
Berikut Langkah-langkahnya :
1. Setting Ponsel HP Sony Ericsson anda : Masuk menu Setting >> konektivitas >> komunikasi Data >> Account Data >> Buat account data dan isikan :
Untuk Operator IM3 dan Mentari
APN :indosatgprs
User Nama : indosat
Pasword : indosat
Untuk Koneksi menggunakan Indosat M2
APN : indosatm2
Username : sesuai dengan username account IM2 anda
Password : sesuai dengan password accout IM2 anda
abaikan isian menu lainnya dan simpan Account anda
2. Masuk menu Setting >> Konektivitas >>> Setting Internet >> Buat Profil internet >> Isikan sambung dengan pilih acount komunikasi data yang telah anda buat pada langkah pertama utuk isian proxynya sebagai berikut :
Untuk IM3 dan Mentari :
Bisa menggunakan Proxy bisa juga tanpa proxy
Proxy yang bisa digunakan yaitu 010.019.019.019 atau 202.152.162.250
Untuk Koneksi IM2
Pakai proxy : pilih tidak
3. Masuk menu Setting >> Konektivitas >>> Setting Internet >>Setting Java Internet >> Pilih profil internet sesuai dengan langkah no 2. Bila Ponsel SE anda tidak ada menu ini otomatis menggunakan Profil Internet seperti pada langkah no 2
Sampai pada tahap ini Ponsel anda sudah bisa digunakan untuk brwosing Internet menggunakan Ponsel anda tersebut.
Berikut Penggunaan Ponsel sebagai Modem Internet
Koneksi Modem Ponsel menggunakan Bluetooth :
4. Buat Account Komunikasi data baru seperti langkah no 1. Isi pada bagian APN sesuai operator anda akan tetapi user name dan password anda kosongkan,
5. selanjutnya masuk menu Setting >> Konektifitas >> Bluetooth >> Internet Bluetooth >> Pilih account Komunikasi data yang anda buat untuk sambungan bluetooth tadi. ( Bila tidak terdapat menu ini otomatis menggunakan profil internet seperti pada langkah no 2.)
6. Buka aplikasi Bluetooth dan klik menu Bluetooth dial up networking Service anda isikan user name dan password sesuai dengan operator yang anda gunakan, isi dial up Number dengan : *99***1# atau *99#
“Catatan angka 1 pada nomor dial up *99***1# bisa anda ganti dengan angka sesuai dengan account komunikasi data yang anda buat pada langkah 4, cara ceknya dengan masuk menu konektifitas >> komunikasi Data >> Account Data >> pilihan >> info account lihat Posisi account tersebut di external berapa”
Koneksi Modem Ponsel Memakai Kabel Data Dan PC suite
5. Bila anda Memakai PC suite SE menggunakan kabel data anda tidak perlu setting pada ponsel anda, cukup setting APN, User Name dan password pada Menu Konektifitas Internet modem pada pc suite ( Pilih modem internet jangan dial up internet).
Semoga bermanfaat untuk anda semua.!

Macam Jenis Bisnis Online

Macam Jenis Bisnis Online Yang Menghasilkan Uang
Ada berbagai macam pekerjaan Online atau bahasa kerenya Bisnis Online Internet. Sebagian orang banyak yang belum mengetahui tentang bisnis yang bisa dijalankan di Internet. Sebenarnya banyak macam dan jenis pekerjaan atau bisnis yang bisa di jalankan di Internet. Baik yang jenisnya serius atau cuman sekedar hoby yang bisa menghasilkan uang.
Berikut ESC Creation memberikan sedikit gambaran beberapa Bisnis atau Pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan atau uang dari Internet untuk pemula dan biasa di kerjakan untuk menambah penghasilan di internet.
Adsense / Periklanan
Bisnis adsense atau iklan adalah bisnis yang berkaitan dengan pemasaran melalui internet. Cara kerjanya dengan menjual jasa dengan cara mengiklankan suatu bisnis / Jasa atau mengiklankan website perusahaan atau yang sejenis dengan maksud untuk mengenalkan suatu produk atau jasa atau jenis bisnis lainnya agar lebih dikenal dan memasyarakat.
Teknik atau cara kerja yang sering digunakan sebagai berikut :
  • Memasang banner suatu website , produk atau website di website atau blog yang kita miliki.
  • Memasang link situs suatu website yang dikenalkan di website atau blog kita.
Salah satu contohnya seperti di bawah ini :
Untuk bisa menjalankan bisnis ini tentunya kita harus mempunyai website atau blog yang akan kita jual space / tempat dimana kita bisa memasang iklan iklan tersebut.
Sedang cara kita mendapatkan client atau mitra bisnis ini yaitu :
  • Dengan secara langsung negosiasi untuk menjual space iklan ke pihak penyewa tempat iklan
  • Mendapatkan order pemasangan iklan tersebut dari perusahaan broker iklan atau pengepul iklan
Beberapa broker iklan diantaranya :
  1. Google Adsense
  2. Adsense camp
  3. Kumpulblogger
  4. Klik saya
  5. TLA
Metode imbalan atau pembayaran ada beberapa macam diantanya PPC (Pay Per Click) dan Sewa menurut waktu (Harian, maupu bulanan)
Affiliate Marketing
Affiliate Marketing adalah pemasaran berbasis Internet praktek di mana imbalan bisnis satu atau lebih afiliasi untuk setiap pengunjung atau pelanggan yang ditimbulkan oleh upaya pemasaran afiliasi.
Dalam bahasa mudahnya kita membantu memasarkan suatu produk (Biasanya di sertai dengan memeberi penjelasan atau detail barang atau jasa yang dipasarkan) kita mendapatkan imbalan bila terjadi transaksi penjualan suatu produk atau jasa. Jadi kita membantu memasarkan suatu produk tanpa kita harus mempunyai atau membeli produk produk tersebut
Biasanya metode imbalanya adalah dengan persentase dari jumlah nilai transaksi yang terjadi.
Referral Business
Referral Business adalah merekomendasikan secara pribadi, mendukung, dan meneruskannya ke profesional yang berkualifikasi atau jasa yang dapat melayani kebutuhan mereka.
Referral Business sebenarnya hampir mirip dengan Affiliate Marketing, yaitu tugas kita adalah memberi arahan atau menunjukan kepada seseorang untuk membeli atau menggunakan suatu produk atau jasa melalu link referal bisnis yang kita miliki sebagai identitas Referral mitra kita.
Metode imbalanya biasanya ditentukan sejumlah nilai uang yang telah ditentukan oleh pihak mitra bussines kita setiap terjadi transaksi penjualan suatu produk maupun jasa.
Contohnya Referral Adsense :

Referral Iklan

Referral Produk /Jasa
PTC (Pay To Click)
Pay To Clcik adalah bisnis yang menghasilkan uang dengan metode kerja dengan klik iklan. Jadi kita mendapatkan imbalan dari klik iklan yang kita kerjakan. Jumlah iklan dan besarnya imbalan ditentukan perusahaan PTC tersebut..
Contoh Bisnis PTC :
Namun Bisnis PTC ini banyak yang scam atau penipuan dalam artian tidak membayar, jadi carilah informasi referensi Bisnis PTC cari informasi PTC tersebut Scam atau bukannya.
Mudah mudahan sedikit informasi dari ESC Creation Mengenai Macam Macam Bisnis yang menghasilkan Uang di Internet ( Bisnis online ) ini bisa bermanfaat buat anda
Duit Dari Apps Facebook :
Dapatkan duit dari Facebook dengan cara bergabung menggunakan aplikasi EASY CASH. Begitu anda menjalankan aplikasi ini anda langsung mendapatkan $ 1 US

Kabel Gas & Kopling Yang Beresiko

Bila kita perhatikan pada kabel gas dan kabel kopling yang ada dibawah setang motor FU, ada sebuah pengait / bracket kecil untuk mengaitkan kedua kabel tersebut agar selalu dalam posisi menempel pada body / rangka motor. 4
Mungkin bagi sebagian orang, bracket tersebut hanya sebatas pelengkap pada motor, tetapi sebetulnya pengaruhnya cukup besar juga.

Kabel yang tidak menempel pada bracket tersebut otomatis akan mengurangi kerapian dalam motor kita. Selain itu, kabel yang bergerak bebas tersebut ada kemungkinan akan mengalami lecet karena bergesekan / terjepit antara body dan bagian shock breaker.
3
Perlu diketahui bahwa lapisan luar dari kabel yang berbahan karet menyelubungi lapisan kedua yang berbentuk ulir dengan bahan besi. Kedua bahan inilah yang melindungi kabel serat kopling dan gas pada motor.
Bila lapisan terluar terkelupas akibat gesekan tadi, secara otomatis lapisan kedua akan menjadi terbuka. Resiko pertama, lapisan kedua akan lebih mudah untuk mengalami bengkok sehingga kabel serat didalamnya akan menjadi susah untuk melakukan gerakan naik turun karena terjepit pada bentuk pelindung kabel yang berubah.
1
Dampak yang paling parah, ulir pada lapisan kedua akan menjadi semakin tertarik akibat pergerakan rutin  dari kabel serat pada saat kita mengoperasikan motor. Dalam kondisi ini, ada kemungkinan saat kita menarik kabel gas, kabel serat tidak akan kembali ketika kita mengendorkan kabel gas kembali. Ini akan sangat berbahaya bagi pengendara dan sangat besar kemungkinan akan mengalami kecelakaan.
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari hal ini adalah :
  • Senantiasa periksa kabel sebelum mengendarai motor, pastikan agar kedua kabel selalu tersangkut di dalam bracket.
  • Segera ganti kabel gas / kopling yang terkelupas untuk menghindari resiko yang lebih besar.
  • Senantiasa membawa kabel cadangan bila mengalami kerusakan di tengah jalan.

Mesin Vixion dan Jupiter MX

Beda Mesin Vixion dan Jupiter MX

Banyak menganggap mesin Yamaha Vixion adalah mesin Jupiter MX yang dibore-up menjadi 150cc, padahal kedua motor keluaran Yamaha itu cuma sama di kepala silendernya doang. Selain bentuk silinder yang sama, kelihatanya cam-nya mirip dan hanya beda durasinya.

Mulai ke area blok silinder Diasilnya, mulai terdapat perbedaan yaitu diameternya, karena Vixion memakai piston yang lebih lebar. Selain diameter piston yang lebih lebar, piston Vixion memiliki bentuk cekungan dikepala pistonnya. Ini berbeda dengan piston Jupiter MX yang cenderung rata. Dari sini bisa dilihat bahwa Vixion mempunyai kompresi yang lebih rendah dibandingkan dengan Jupiter MX.

Untuk bagian crankcasenya tidak ada samanya sama sekali. Hal ini disababkan karena perbedaan jumlah gigi perneling dan diterapkanya balancer pada Vixion. Urusan presneling Jupiter MX masih 4 percepatan dan pengoprasiannya seperti bebek biasa, kalo Vixion 5 percepatan dioperasikan layaknyak motor sport. Penerapan ini berpengaruh terhadap konsumsi bensin yang lebih irit dari Jupiter MX, karena rpm tidak dibiarkan menggantung terlalu tinggi.

Kekurangan kopling gosong pada Jupiter MX, coba diperbaiki pada Vixion yaitu dengan menambah volume mesin dan menerapkan 5 lembar plat kopling. 5 lembar plat kopling ini diyakini lebih tahan gesek karena dapat menyerap oli lebih banyak dan tarikan lebih spontan uhuuy….. Letak stut koplingnya pun disebelah kiri (seperi tradisi Yamaha), kalo Jupiter MX disebelah kanan.



Balancer keunggulan lain mesin Vixion, yang menyebabkan meminimalisir getaran mesin. Penerapan balancer ini membuat Vixion berani menggunakan hanya 3 engine-mounting (2 dicrankcase, 1 dihead). Jumlah ini lebih sedikit dari Jupiter MX yang memakai 4 engine-mounting (3 dicrankcase, 1 dihead) untuk memasangnya di rangka.

Jadi sekarang tau kan dedanya, tetapi sebenarnya tetap ada komponen yang bisa saling kanibal. Contohnya untuk untuk bore-up Jupiter MX menjadi 150cc tinggal beli silinder, piston dan ring piston.

Suzuki Satria FU 150 Warna Putih 2011

Setelah sukses dengan SUZUKI Satria F150 – 2010, sekarang SUZUKI mengupdate SATRIA F150 – 2011 dari kab body dan skinnya, salah satu di antaranya satria F150 warna Putih, berikut spesifikasinya ?? :)
Isi Silinder : 150 cc
Warna : Hitam Putih ( Asli Bawaan Suzuki )
Odometer : 13KM
Top Speed : 180KM asiklah buat raja jalanan !!
Berikut Gambar Tampilan FU PUTIH ???
=>Dari Samping ( maaf masih baru ) :D

=> Dari Depan (serong kanan) hhehehe.. :)

=> Tampilan Dari Interiornya, OKE kan!!

=> Tampilan dari dekat di zoom , Maniskan Head Lightnya :)

daftar harga ban motor 2011

FDR
FDR Flemmo (tube type)
70/90-14 ——- Rp 76.000
80/90-14 ——- Rp 92.000
90/90-14 ——- Rp 118.000
70/90-17 ——- Rp 82.000
80/90-17 ——- Rp 110.000
FDR Evo (tubeless)
80/80-14 ——- Rp 119.000
90/80-14 ——- Rp 139.000
120/70-14 —— Rp 223.000
FDR Race (tubeless, soft compound)
90/80-17 XT —- Rp 280.000
90/80-17 XR —- Rp 280.000
90/80-17 MP27 — Rp 280.000
90/80-17 MP57 — Rp 280.000
90/80-17 MP76 — Rp 280.000
FDR XT (tubeless, daily use)
90/80-18 ——- Rp 244.000
110/80-18 —— Rp 348.000
FDR City Power (tube type)
2.75-18 ——– Rp 118.000
3.00-18 ——– Rp 141.000
100/90-18 —— Rp 184.000
FDR Genzi (tube type)
70/80-17 ——- Rp 96.000
80/80-17 ——- Rp 125.000
90/80-17 ——- Rp 162.000
Dunlop
70/90-16 D110 — Rp 78.000
80/90-16 ——- Rp 99.000
2.25-17 TT900 — Rp 62.000
2.50-17 ——– Rp 77.000
2.75-17 ——– Rp 103.000
90/90-17 ——- Rp 136.000
120/80-17 —— Rp 171.000
2.75-18 ——– Rp 98.000
3.00-18 ——– Rp 124.700
100/90-18 —— Rp 166.000
110/80-18 —— Rp 167.000
70/90-17 D102 — Rp 81.000
80/90-17 ——- Rp 109.000
90/90-17 ——- Rp 143.000
Swallow
3.50-8 ———- Rp 69.000
3.50-10 ——— Rp 87.000
90/90-10 ——– Rp 110.000
100/80-10 ——- Rp 120.000
100/90-10 ——- Rp 120.000
120/70-10 ——- Rp 137.000
90/90-12 ——– Rp 146.000
120/70-12 ——- Rp 182.000
130/70-12 ——- Rp 207.000
130/60-13 ——- Rp 207.000
90/90-14 ——– Rp 142.000
100/70-14 ——- Rp 175.000
110/80-14 ——- Rp 196.000
120/70-14 ——- Rp 217.000
140/70-14 ——- Rp 251.000
80/80-16 ——– Rp 144.000
90/90-16 ——– Rp 190.000
110/80-16 ——- Rp 253.000
130/80-16 ——- Rp 330.000
90/80-17 ——– Rp 190.000
100/70-17 ——- Rp 227.000
110/70-17 ——- Rp 253.000
120/70-17 ——- Rp 284.000
130/70-17 ——- Rp 330.000
120/80-18 ——- Rp 330.000
130/70-18 ——- Rp 377.000
X-Cross
80/100-14 ——- Rp 241.000
90/100-14 ——- Rp 266.000
90/100-16 ——- Rp 300.000
2.50-17 ——— Rp 125.000
2.75-17 ——— Rp 151.000
3.00-17 ——— Rp 174.000
3.50-17 ——— Rp 227.000
2.50-18 ——— Rp 133.000
2.75-18 ——— Rp 150.000
3.00-18 ——— Rp 188.000
3.50-18 ——— Rp 228.000
70/100-19 ——- Rp 275.000
Terra Cross
80/100-12 ——- Rp 263.000
90/100-16 ——- Rp 239.000
90/90-17 ——– Rp 312.000
100/100-18 —— Rp 385.000
110/100-18 —— Rp 413.000
70/100-19 ——- Rp 275.000
80/100-21 ——- Rp 307.000
Mizzle
M 39
70/90-17 ——- Rp 91.000
80/90-17 ——- Rp 117.000
WINDAZ
2.50-17 ——– Rp 96.000
2.75-17 ——– Rp 126.000
3.00-17 ——– Rp 150.000
Power Grip
2.25-17 ——– Rp 78.000
2.50-17 ——– Rp 92.000
2.75-17 ——– Rp 122.000
3.00-17 ——– Rp 145.000
2.75-18 ——– Rp 127.000
3.00-18 ——– Rp 151.000
3.50-18 ——– Rp 204.000
VTX
60/80-17 ——- Rp 91.000
70/80-17 ——- Rp 96.000
80/80-17 ——- Rp 125.000
90/80-17 ——- Rp 159.000
100/80-17 —— Rp 173.000
90/80-18 ——- Rp 168.000
100/80-18 —— Rp 191.000
DRACO / VETRA / M89
90/80-17 ——- Rp 159.000
M600
110/90-18 —— Rp 289.000
M700
80/80-17 ——- Rp 165.000
90/80-17 ——- Rp 221.000
100/80-17 —— Rp 240.000
90/80-18 ——- Rp 255.000
100/80-18 —— Rp 290.000
120/80-18 —— Rp 437.000
M800
130/80-17 —— Rp 414.000
Bridgestone Battlax
BT39
* 80/90-17 F — Rp 610.000
* 90/80-17 F — Rp 640.000
BT45
* 110/70-17 F — Rp 600.000
* 120/70-17 F — Rp 695.000
* 120/80-17 R — Rp 810.000
* 120/80-18 R — Rp 845.000
* 130/70-17 R — Rp 880.000
* 140/70-17 R — Rp 935.000
* 150/70-17 R — Rp 985.000
BT92
* 120/70-17 F — Rp 805.000
* 150/60-17 R — Rp 1.040.000
* 160/60-17 R — Rp 1.092.000
Federal
80/90-14 (Vario)———- Rp 98.000
90/90-14 —————– Rp 125.000
2.50-17 KPH (Supra)——- Rp 88.000
2.75-17 KPH ————– Rp 119.000
70/90-17 KTM (Kharisma) — Rp 88.000
80/90-17 KTM ————- Rp 119.000
70/90-17 CS1 (CS1) ——- Rp 96.000
80/90-17 CS1 ————- Rp 128.000
IRC
3.50-8 —————- Rp 83.000
3.50-10 ————— Rp 97.000
100/90-10 ———— Rp 150.000
70/90-14 ————- Rp 83.000
80/90-14 ————–Rp 100.000
70/90-16 ————– Rp 91.000
80/90-16 ————– Rp 116.000
2.25-17 ————— Rp 82.000
2.50-17 (70/90-17) —- Rp 96.000
2.75-17 (80/90-17) —- Rp 128.000
3.00-17 ————— Rp 154.000
90/90-17 ————– Rp 174.000
2.50-18 ————— Rp 107.000
2.75-18 ————— Rp 131.000
3.00-18 ————— Rp 159.000
100/90-18 ————- Rp 203.000
3.50-18 GS45 ———- Rp 237.000
4.00-18 GS45 ———- Rp 284.000
2.75-21 TR ———— Rp 154.000
Tubeless
70/90-14 NR80 ——- Rp 122.000
80/90-14 NR80 ——- Rp 150.000
70/90-17 NR80 ——- Rp 146.000
80/90-17 NR80 ——- Rp 182.000
90/80-17 NR80 ——- Rp 219.000
90/80-17 Razzo ——- Rp 315.000
http://faiz06.blogspot.com/